Salah satu tahapan yang cukup penting pada tumbuh kembang anak adalah tahap berbicara atau mengucapkan kata-kata. Namun, anak bisa saja mengalami keterlambatan berbicara atau speech delay.
Tahapan belajar berbicara pada anak biasanya dimulai sejak anak berusia 6-9 bulan. Pada usia ini, anak akan mulai mengulang suku kata yang sama atau bubbling, seperti “ma-ma-ma-ma” atau “pa-pa-pa-pa”.
Memasuki usia 12 bulan, anak sudah mulai bisa mengucap “mama” atau “papa” dan mulai bisa mengeluarkan satu atau dua kata yang bermakna. Setelah itu, seiring pertumbuhannya, kosa kata yang diucapkan oleh anak akan semakin bertambah.
Tahapan belajar berbicara ini merupakan salah satu proses yang perlu diperhatikan oleh orangtua. Dikarenakan tumbuh kembang dan tahapan kemajuan perkembangan setiap anak akan berbeda, tidak sedikit anak yang mengalami keterlambatan berbicara atau speech delay yang tampak jelas perbedaannya dari teman sebayanya.
Speech delay merupakan salah satu gangguan komunikasi yang wajar dan kerap terjadi pada anak di masa pertumbuhannya. Namun jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan tepat, speech delay akan menjadi gangguan serius yang berpengaruh pada kecerdasan dan perilaku anak di masa depan.
Tanda-tanda Anak Mengalami Speech Delay
Psikolog Risa Singgih dalam acara Live Bersama Pakar di Bayiku ID menyebutkan beberapa tanda yang mungkin muncul dan terlihat saat anak mulai menunjukkan gangguan speech delay, di antaranya:
- Pada usia 12-15 bulan anak belum bisa mengucapkan kata sederhana 1-20 kata. Jika pada usia tersebut anak belum bisa mengucapkan lebih dari 20 kata, orangtua harus lebih waspada dan memperhatikan dengan betul perkembangan anak.
Namun tidak serta merta melabeli anak mengalami speech delay, orangtua harus berkonsultasi dengan pakar agar mendapatkan diagnosa yang tepat seperti dokter, psikolog atau psikiater.
- Saat memasuki usia 18 bulan, anak biasanya sudah dapat memahami instruksi sederhana yang diberikan oleh orangtua. Pada usia tersebut, anak sudah mulai merespon jika dipanggil namanya. Selain itu, anak juga sudah mulai mampu mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan seperti meminta makan.
- Pada usia 3-4 tahun anak tidak bisa membuat kalimat pendek. Orangtua perlu lebih waspada saat anak memasuki usia pra sekolah namun belum bisa membuat kalimat pendek. Karena ketika anak memasuki usia pra sekolah seperti playgroup atau PAUD sosialisasi anak dengan teman sebayanya mulai terbentuk. Dan jika anak mulai menunjukkan gangguan speech delay akan lebih terlihat.
- Usia 4-5 tahun anak tidak bisa menyusun cerita pendek, seperti “aku kemarin dibelikan sepatu, lho sama ayahku”. Saat anak tidak bisa menyusun cerita pendek di usia ini, orangtua harus lebih waspada.
Penyebab Speech Delay
Speech delay yang terjadi pada anak dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti yang dijelaskan oleh Psikolog Risa:
1. Gangguan fisik
Seperti gangguan pendengaran, gangguan rahang dan sekitar mulut serta gangguan sistem saraf yang kemungkinan terjadi akibat cedera pada anak.
2. Emosi yang kurang tertata pada anak
Dalam menyampaikan emosinya melalui ucapan atau ungkapan, apa yang ada di pikiran anak seringkali lebih cepat diproses daripada apa yang ingin disampaikan sehingga terkadang membuat anak gagap dan terbata-bata saat bicara. Emosional anak bisa saja tidak terbentuk karena adanya trauma, ketakutan dan kecemasan yang meliputi pikiran anak.
3. Sosial
Pengaruh sosial yang seringkali menyebabkan anak mengalami gangguan speech delay adalah bingung bahasa. Seperti saat orangtua memaksa anak untuk dapat menguasai beberapa macam bahasa, sedangkan bahasa Ibu Si Kecil belum terinternalisasi dengan sempurna. Sehingga menyebabkan anak mengalami bingung bahasa dan menimbulkan gangguan speech delay.
4. Kurang stimulasi dari orangtua
Orangtua yang jarang bahkan tidak pernah mengajak anak ngobrol hal-hal sederhana dapat memicu adanya gangguan speech delay. Seperti saat anak dibiarkan asik dengan dunia YouTube tanpa adanya pengawasan dan komunikas verbali orangtua, anak hanya akan berbicara dengan imajinasi mereka.
Sehingga anak tidak terbiasa mengatur emosi, mengatur kata-kata dan tidak berbicara secara langsung.
