Seiring dengan perkembangan buah hati, orangtua tentu akan mengalami beberapa kendala. Seperti halnya dalam pemberian ASI eksklusif, pemberian Makanan Pendamping Asi atau MPASI juga menjadi hal yang membuat para orangtua lebih peduli dengan perkembangan anak.
Jika saat pemberian ASI para Bunda dihadapkan dengan konsumsi makanan dan nutrisi yang menunjang produksi ASI, saat anak memasuki usia diberikannya MPASI juga menjadi tantangan bagi Bunda.
Bayi mulai diperkenalkan dengan MPASI saat memasuki usia 6 bulan. Sebagian besar orang tua akan berbondong-bondong mempelajari makanan apa saja yang akan diberikan kepada Si Kecil. Tidak sedikit orang tua yang menemui berbagai masalah saat memberikan MPASI yang sering membuat khawatir.
Salah satu masalah yang kerap menghantui para orangtua khususnya Bunda adalah saat anak mengalami GTM atau Gerakan Tutup Mulut. GTM merupakan sikap yang ditunjukkan oleh si kecil saat ia enggan menerima makanan.
Istilah GTM sebenarnya tidak ada dalam medis. Istilah tersebut dibuat oleh para orangtua yang anaknya mengalami masalah tidak mau makan. Seperti anak makan dengan waktu yang cukup lama, makanan diemut, suka melepeh makanan dan susah naik tekstur.
Penyebab GTM pada Anak
Dokter Deva Putriane kepada Bayiku ID mengungkapkan, terdapat beberapa penyebab yang membuat anak mengalami GTM. Kondisi GTM berbeda dengan kondisi dimana anak mengalami small eat atau makan dalam porsi kecil.
Sejumlah orang tua terutama Bunda sering salah kaprah menyebut anak mengalami GTM, padahal Si Kecil masih mau makan meski hanya 3-5 suap saja.
Beberapa kemungkinan yang dapat menyebabkan anak mengalami GTM adalah:
1. Faktor kurangnya pengetahuan orangtua
Seringkali karena faktor minimnya pengetahuan, para Bunda memberikan MPASI pada anak namun tidak sesuai dengan usia dan tahapan-tahapan pemberian MPASI. Seperti saat Bunda memberikan Si Kecil makanan pendamping ASI selain makanan berat.
Misalnya memberikan buah atau makanan terfortifikasi yang membuat Si Kecil terbiasa dengan makanan dengan rasa yang enak, bukan nutrisi kompleks. Sehingga saat Bunda memberikan MPASI homemade dengan pemenuhan karbohidrat, lemak dan protein dengan rasa yang berbeda, maka Si Kecil seringkali enggan untuk makan.
2. Faktor dari kondisi anak
Si Kecil kerap mengalami GTM saat sakit seperti saat anak mengalami diare, sariawan atau tumbuh gigi. Sehingga anak merasa enggan dan tidak mau makan. Selain kondisi tubuh, kenyamanan popok dan pakaian Si Kecil juga perlu diperhatikan. Pada beberapa kasus, anak mengalami GTM saat popok atau pakaian yang mereka pakai tidak nyaman.
3. Faktor makanan
Anak mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI saat berusia 6 bulan. Di usia tersebut anak akan diberikan MPASI dengan tekstur sesuai usianya. Namun saat menginjak usia 8 bulan dan Bunda tidak menaikkan teksturnya, anak seringkali mengalami GTM.
Selain tekstur makanan, rasa dari makanan juga perlu diperhatikan. Pada anak usia di bawah satu tahun tidak disarankan memberi MPASI dengan kadar gula dan garam yang tinggi. Bunda dapat menambahkan cita rasa makanan dari kaldu yang dihasilkan dari protein dan sumber lainnya. Orangtua juga harus lebih memahami selera makanan apa yang disukai oleh Si Kecil.
Oleh karena itu, perlu diperhatikan oleh para orangtua mengenai pengetahuan-pengetahuan tentang pemberian MPASI pada anak, agar tumbuh kembang anak berjalan dengan baik. Pasalnya, jika anak kekurangan nutrisi bahkan mengalami GTM yang cukup lama, dapat menyebabkan gangguan berat badan stuck, menurun atau bahkan mengalami stunting.
